terlihat sedang duduk di sebuah kursi roda. Matanya menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang. Seolah meminta harapan untuk dirinya.
“Nina, masuk yuk, sudah malam ini,” pinta Ibunda Nina.
“Bunda, Nina rindu ayah, Nina ingin bertemu ayah, bunda…,” ucap Nina sambil terus memandangi langit.
Sekejap Ibunda tertunduk, matanya meneteskan butiran air mata yang jatuh ke pipinya. Namun ia mengusapnya dengan cepat.
“Bunda, Nina rindu ayah, Nina ingin bertemu ayah, bunda…,” ucap Nina sambil terus memandangi langit.
Sekejap Ibunda tertunduk, matanya meneteskan butiran air mata yang jatuh ke pipinya. Namun ia mengusapnya dengan cepat.
“Nina sayang, ayah masih bertugas. Nanti pasti ayah pulang dan memeluk Nina,” jawab Ibunda sambil mengelus kepala Nina.
“Tapi kapan bunda? Nina rindu sekali dengan ayah, Nina ingin ayah datang saat ultah Nina, bunda…,” ucap Nina penuh harap.
“Nanti sayang… Nina sekarang tidur, terus berdoa kepada Tuhan agar ayah cepat pulang dan memeluk Nina, oke sayang?” balas Ibunda berusaha menenangkan Nina.
“Ya sudah bun, Nina tidur sekarang,” balas Nina.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan meninggalkan suasana malam yang dingin.
“Tapi kapan bunda? Nina rindu sekali dengan ayah, Nina ingin ayah datang saat ultah Nina, bunda…,” ucap Nina penuh harap.
“Nanti sayang… Nina sekarang tidur, terus berdoa kepada Tuhan agar ayah cepat pulang dan memeluk Nina, oke sayang?” balas Ibunda berusaha menenangkan Nina.
“Ya sudah bun, Nina tidur sekarang,” balas Nina.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan meninggalkan suasana malam yang dingin.
Nina terlihat duduk di depan jendela kamarnya. Masih dengan kursi roda yang masih setia menyangga tubuh lemahnya. Tangan kanannya terlihat memegang sebuah pensil dan sebuah kertas kecil di pangkuannya. Perlahan, Nina mulai menulis sesuatu.
Setelah selesai menulis, Nina melipat kertas itu dengan rapi lalu menggenggamnya dengan erat.
Setelah selesai menulis, Nina melipat kertas itu dengan rapi lalu menggenggamnya dengan erat.
“Nina, sarapan dulu ya…,” ujar Ibunda sambil membawa menu sarapan untuk Nina.
“Iya bunda…,” jawab Nina sambil menebar senyum manis.
Nina terlihat sarapan pagi dengan sangat lahap. Tidak seperti biasanya.
“Iya bunda…,” jawab Nina sambil menebar senyum manis.
Nina terlihat sarapan pagi dengan sangat lahap. Tidak seperti biasanya.
“Bunda, ayah kapan pulang? Kok masih lama? Nina rindu..,” Nina kembali bertanya tentang Ayahnya. Matanya berkaca-kaca. Seolah sangat rindu dengan Ayahanda terinta.
“Nina sayang, ayahmu pasti pulang kok… Dan pasti dia datang di hari ulang tahunmu, sayang,” balas Ibunda.
“Tapi kapan bunda…?” jawab Nina.
Ibunda tidak menjawab, hanya diam sambil memandangi wajah polos anak semata wayangnya itu.
“Nina sayang, ayahmu pasti pulang kok… Dan pasti dia datang di hari ulang tahunmu, sayang,” balas Ibunda.
“Tapi kapan bunda…?” jawab Nina.
Ibunda tidak menjawab, hanya diam sambil memandangi wajah polos anak semata wayangnya itu.
“Nina sayang, nanti setelah makan, kamu ikut bunda ke lapangan ya?” ucap Ibunda.
“Ha? Kenapa ke sana bunda?” tanya Nina dengan heran.
“Sudahlah sayang, pokoknya kamu ikut ke lapangan ya…,” jawab Ibunda yang semakin membuat Nina heran.
“Ya sudah deh bunda, Nina ikut,” balas Nina sambil sekali lagi tersenyum.
“Tapi, Nina harus memakai penutup mata dulu, oke?” ucap Ibunda.
“Kok pakai gituan bunda?” Nina semakin heran.
“Sudahlah…,” balas Ibunda.
“Ya sudah deh, bunda,” jawab Nina pasrah
“Ha? Kenapa ke sana bunda?” tanya Nina dengan heran.
“Sudahlah sayang, pokoknya kamu ikut ke lapangan ya…,” jawab Ibunda yang semakin membuat Nina heran.
“Ya sudah deh bunda, Nina ikut,” balas Nina sambil sekali lagi tersenyum.
“Tapi, Nina harus memakai penutup mata dulu, oke?” ucap Ibunda.
“Kok pakai gituan bunda?” Nina semakin heran.
“Sudahlah…,” balas Ibunda.
“Ya sudah deh, bunda,” jawab Nina pasrah
Setelah makan, mereka berjalan menuju lapang sepak bola di sudut kompleks perumahan. Dengan penutup mata, Nina ditemani Ibunda menuju lapangan.
Mereka pun sampai di sebuah lapangan hijau yang teramat luas.
Mereka menuju ke sebuah pohon mangga di sudut lapangan. Mereka berteduh di bawah naungan daun pohon mangga.
“Nina, kita berteduh di sini dulu ya nak…,” ucap Ibunda.
“Iya bunda…,” balas Nina denga senyum manisnya.
Mereka pun sampai di sebuah lapangan hijau yang teramat luas.
Mereka menuju ke sebuah pohon mangga di sudut lapangan. Mereka berteduh di bawah naungan daun pohon mangga.
“Nina, kita berteduh di sini dulu ya nak…,” ucap Ibunda.
“Iya bunda…,” balas Nina denga senyum manisnya.
Hampir 1 jam mereka di sana. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, suara gemuruh terdengar begitu nyaring.
“Bunda…! Bunda…! Kenapa ini? Ada apa ini? Nina takut bunda… Ayo pulang,” ucap Nina ketakutan sambil memeluk Ibundanya.
“Tenang sayang, tidak ada apa-apa kok… Tenang ya…,” balas Ibunda berusaha menenangkan Nina.
“Tapi Nina takut bunda…, Nina takut…,” Nina terus memeluk Ibundanya dengan mata masih tertutup.
“Bunda…! Bunda…! Kenapa ini? Ada apa ini? Nina takut bunda… Ayo pulang,” ucap Nina ketakutan sambil memeluk Ibundanya.
“Tenang sayang, tidak ada apa-apa kok… Tenang ya…,” balas Ibunda berusaha menenangkan Nina.
“Tapi Nina takut bunda…, Nina takut…,” Nina terus memeluk Ibundanya dengan mata masih tertutup.
Setelah 5 menit, suara gemuruh dan angin kencang sudah tidak ada.
“Nina sayang, kita ke tengah lapangan yuk…,” ucap Ibunda.
“Tidak mau bunda, Nina takut…,” Nina masih saja takut dengan suara gemuruh tadi.
“Tidak apa-apa nak,” balas Ibunda.
“Hmmm… Ya sudah deh bunda,” balas Nina, pasrah.
Mereka pun menuju ke tengah lapangan.
“Nina sayang, kita ke tengah lapangan yuk…,” ucap Ibunda.
“Tidak mau bunda, Nina takut…,” Nina masih saja takut dengan suara gemuruh tadi.
“Tidak apa-apa nak,” balas Ibunda.
“Hmmm… Ya sudah deh bunda,” balas Nina, pasrah.
Mereka pun menuju ke tengah lapangan.
“Nina sayang, kamu sudah siap kan?” tanya Ibunda.
“Sudah siap apa bunda?” Nina semakin heran.
“Sudah siap untuk membuka mata?” tanya Ibunda sekali lagi.
“Sudah bunda…,” jawab Nina.
Dengan perlahan, kedua tangan Ibunda Nina membuka penutup mata dari belakang. Matanya terus meneteskan air mata.
“Nah, sekarang Nina sudah boleh buka mata…,”
“Sudah siap apa bunda?” Nina semakin heran.
“Sudah siap untuk membuka mata?” tanya Ibunda sekali lagi.
“Sudah bunda…,” jawab Nina.
Dengan perlahan, kedua tangan Ibunda Nina membuka penutup mata dari belakang. Matanya terus meneteskan air mata.
“Nah, sekarang Nina sudah boleh buka mata…,”
Perlahan, Nina membuka mata kecilnya. Bayangan masih belum jelas. Tapi perlahan, matanya dapat melihat sebuah benda besar berwarna hijau tua di hadapannya.
“Wooow… Bunda, ini helikopter kan bunda? Yang ada di televisi itu? Iya kan bunda?” tanya Nina. Ia baru kali ini melihat helikopter secara langsung.
“Iya nak, ini helikopter… Katanya kamu mau jadi pilot wanita…,” balas Ibunda sambil tersenyum.
“Iya bunda, tapi yang Nina mau adalah ayah, bukan helikopter…,” balas Nina. Wajah polosnya tidak lagi ceria, ia tetap saja mau ayahnya datang.
“Wooow… Bunda, ini helikopter kan bunda? Yang ada di televisi itu? Iya kan bunda?” tanya Nina. Ia baru kali ini melihat helikopter secara langsung.
“Iya nak, ini helikopter… Katanya kamu mau jadi pilot wanita…,” balas Ibunda sambil tersenyum.
“Iya bunda, tapi yang Nina mau adalah ayah, bukan helikopter…,” balas Nina. Wajah polosnya tidak lagi ceria, ia tetap saja mau ayahnya datang.
Tiba-tiba seorang lelaki berbadan tegap dengan seragam TNI turun dari atas pesawat. Wajahnya tertutup topeng putih.
“Bunda… Itu siapa bunda? Itu siapa?” Nina ketakutan melihat pria bertopeng itu.
“Tenang sayang…,” balas Ibunda.
Pria itu terus saja mendekati Nina. Nina kembali menutup matanya.
“Haii…. Sayang…,” pria itu menyapa Nina dengan berbisik.
“Kamu siapa? Pergi!” Nina masih saja menutup matanya.
“Buka dong matanya…,” perintah pria itu.
Nina pun membuka matanya perlahan. Seorang pria gagah dengan seragam TNI berdiri di hadapannya. Kedua tangan pria itu memegang sebuah tulisan…
“Happy birthday Nina sayang…,” ucap pria gagah itu dengan lembut.
“AYAAAAHHHH…!!!” teriak Nina. Pria itu langsung mendekap Nina dengan penuh kasih sayang. Air matanya tumpah saat mendekap Nina.
Ya, pria gagah itu adalah ayah Nina. ia pergi selama 3 tahun karena ada misi perdamaian di luar negeri. Selama berpisah, Nina selalu menanyakan kapan ayahnya pulang ke Indonesia.
“Bunda… Itu siapa bunda? Itu siapa?” Nina ketakutan melihat pria bertopeng itu.
“Tenang sayang…,” balas Ibunda.
Pria itu terus saja mendekati Nina. Nina kembali menutup matanya.
“Haii…. Sayang…,” pria itu menyapa Nina dengan berbisik.
“Kamu siapa? Pergi!” Nina masih saja menutup matanya.
“Buka dong matanya…,” perintah pria itu.
Nina pun membuka matanya perlahan. Seorang pria gagah dengan seragam TNI berdiri di hadapannya. Kedua tangan pria itu memegang sebuah tulisan…
“Happy birthday Nina sayang…,” ucap pria gagah itu dengan lembut.
“AYAAAAHHHH…!!!” teriak Nina. Pria itu langsung mendekap Nina dengan penuh kasih sayang. Air matanya tumpah saat mendekap Nina.
Ya, pria gagah itu adalah ayah Nina. ia pergi selama 3 tahun karena ada misi perdamaian di luar negeri. Selama berpisah, Nina selalu menanyakan kapan ayahnya pulang ke Indonesia.
Air mata Nina terus tumpah. Ia menangis bahagia di bawah dekapan ayah tercinta. Nina tidak menyangka, ayahnya datang saat hari ulang tahunnya. Ibunda Nina juga mendekap Nina dengan penuh kasih sayang. Nina masih saja tidak percaya dengan semua ini. Ia masih tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan seseorang yang amat dicintainya di hari ulang tahunnya
“Ayah, Nina sayang dengan ayah. Ayah juga sayang dengan Nina kan?” ucap Nina dengan berlinang air mata.
“Iya sayang, Ayah sangat sayang dengan Nina. Nina terus berusaha dan berdoa ya, agar nanti bisa jadi tentara seperti ayah… Dan bisa sembuh dari penyakit..,” balas Ayah Nina sambil memandangi wajah Nina.
“Iya ayah…,” jawab Nina.
“Iya sayang, Ayah sangat sayang dengan Nina. Nina terus berusaha dan berdoa ya, agar nanti bisa jadi tentara seperti ayah… Dan bisa sembuh dari penyakit..,” balas Ayah Nina sambil memandangi wajah Nina.
“Iya ayah…,” jawab Nina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar